JAKARTA, Warungdesa.co.id – Tanaman Porang kini tengah naik daun. Padahal, Porang dulunya dianggap sebagai tanaman liar yang tumbuh di pekarangan, bahkan di beberapa daerah dianggap sebagai makanan ular (Porang tanaman). Banyak orang yang mempelajari bagaimana cara budidaya tanaman porang yang merupakan umbi bahan baku dari mi shirataki karena memang membudidayakan tanaman porang bisa menghasilkan untung yang menjanjikan. 

Budidaya tanaman porang kini mulai banyak dilakui petani di sejumlah daerah seiring meningkatnya permintaan ekspor umbinya. Pohon Porang adalah tanaman umbi-umbian dengan nama latin Amorphophallus muelleri. Di beberapa daerah di Jawa, tanaman Porang dikenal dengan nama iles-iles.

Sumber : beritadata.id – Lahan Budidaya Porang

“Budidaya Tanaman Porang, Si Umbi Bahan Baku Mi Shirataki” ini juga terbilang mudah dan murah karena tak memerlukan banyak perlakukan khusus. Pohon Porang mudah tumbuh dalam berbagai kondisi tanah, bahkan di lahan kritis sekalipun. Harga Porang di pasaran ekspor juga terus meningkat. Manfaat Porang, terutama umbinya, digunakan untuk bahan baku pembuatan tepung konjak atau tepung glucomannan. Tepung ini yang kemudian dipakai sebagai bahan utama olahan shirataki, mi bening yang banyak dikonsumsi di Asia Pasifik.

Yuk baca artikel Warung Desa ini untuk lebih tahu banyak tentang Tanaman Porang!

Berbeda dengan tepung terigu atau tepung beras, konjak sendiri dikenal memiliki banyak serat. Itu sebabnya shirataki berbahan dari konjak memiliki rasa lebih kenyal namun kandungan karbohidrat lebih sedikit. Mi shirataki ini juga seringkali dipakai untuk mi ramen di Jepang. Popularitas shirataki juga terus meningkat karena dipercaya sebagai menu diet dan gaya hidup sehat.

Manfaat Porang juga biasanya diolah menjadi bahan baku produk kosmetik, pengental, lem.

“Manfaat Porang banyak digunakan untuk bahan baku tepung, kosmetik, penjernih air, juga untuk pembuatan lem dan jelly yang beberapa tahun terakhir kerap diekspor ke luar negeri, seperti Jepang dan China,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo seperti dikutip pada Kamis (15/4/2021).

Dari data yang dirilis Kementerian Pertanian, jika dijadikan sebagai tanaman budidaya pertanian, keunggulan pohon Porang yakni bisa beradaptasi pada berbagai semua jenis tanah dan ketinggian antara 0 sampai 700 mdpl.

Tanaman Porang juga relatif bisa bertahan di tanah kering. Umbinya atau bibit Porang juga bisa didapatkan dengan mudah, sementara tanamanya hanya memperlukan perawatan yang minim. Kelebihan lainnya, pohon Porang bisa ditanam dengan tumpang sari karena bisa toleran dengan dengan naungan hingga 60 persen.

Sumber : tirto.id – Tanaman Porang

Bibit pohon Porang biasa digunakan dari potongan umbi batang maupun umbi yang telah memiliki titik tumbuh atau umbi katak (bubil) yang ditanam secara langsung. Kendati begitu, tanaman ini baru bisa menghasilkan umbi yang baik pada usia di atas satu tahun sehingga masa panennya cukup lama.

Di Madiun Jawa Timur contohnya, tanaman Porang kini banyak dibudidayakan petani setempat. Ini karena harga Porang relatif lebih menjanjikan dibandingkan tanaman budidaya lain. Di Madiun, semenjak dibudidayakan petani dari tahun 1970-an, pohon Porang menjadi komoditas tanaman perkebunan yang menjanjikan bagi petani setempat.

Harga Porang iris kering yang terus melonjak dari tahun ke tahun menjadikan banyak petani yang banting setir menanam Porang. Hampir semua hasil umbi Porang di Madiun diekspor sebagai bahan baku ramen atau mi tradisional Jepang, serta untuk bahan konyaku dan kosmetik.

Beberapa tahun lalu saja, harga Porang segar sudah mencapai Rp 4.000 per kg. Lalu harga Porang yang sudah dikeringkan atau sudah berbentuk keripik berkisar Rp 15.000 sampai Rp 30.000 per kg. Harganya bisa melonjak menjadi di atas Rp 100.000 per kg setelah diolah lebih lanjut seperti diolah menjadi tepung glukomannan. Negara tujuan ekspornya antara lain Jepang, China, Australia, dan Vietnam.

Badan Karantina Pertanian mencatat, pada tahun 2018 ekspor tepung Porang mencapai 254 ton dengan nilai Rp 11,31 miliar. Ekspor ini terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.

Sentra-sentra budidaya Porang dan pengolahan umbi Porang menjadi tepung saat ini tersebar di Bandung, Maros, Wonogiri, Madiun, dan Pasuruan. Namun begitu, menanam Tanaman Porang juga memiliki beberapa kekurangan. Porang termasuk komoditas yang terbilang baru naik pamor, sehingga pengolahannya dan pemasarannya masih terbatas di beberapa sentra daerah.

Agar mendapatkan harga jual yang baik, petani disarankan terlebih dahulu mencari pasar sebelum melakukan penanaman Tanaman Porang (Porang Tanaman). Beberapa pengepul bahkan memberikan kontrak harga Porang saat dipanen.

Baca juga : Cara Budidaya Maggot BSF Pemula Bersih, Dijamin Menguntungkan

Kekurangan lainnya dalam budidaya Porang, adalah Tanaman Porang lazimnya baru bisa dipanen umbinya setelah dua tahun saat umbi sudah cukup besar. Ini artinya, budidaya Porang memerlukan waktu lebih lama ketimbang tanaman seperti padi, jagung, umbi-umbian, dan komoditas pertanian lainnya.

Tanaman Porang hanya mengalami pertumbuhan selama 5 – 6 bulan tiap tahunnya (pada musim penghujan). Sementara saat musim kemarau, pertumbuhannya terbilang lambat, bahkan terhenti. Namun begitu, Tanaman Porang dapat dipanen setahun sekali tanpa harus menanam kembali umbinya, yang berarti petani tak harus mengeluarkan biaya untuk menanam kembali pasca-dipanen (budidaya Porang).

Nah, mungkin beberapa peluang usaha diatas cocok nih buat kalian, terima kasih telah membaca “Budidaya Tanaman Porang, Si Umbi Bahan Baku Mi Shirataki” menarik lainnya hanya di Warung Desa. Untuk kalian yang ingin membuka usaha dari rumah jangan lupa untuk instal aplikasi Warung Desa karena dengan Warung Desa kamu bisa menikmati “Usaha Rumahan Hasil Kantoran”

Recommended Posts