JAKARTA, Warungdesa.co.id – Ulat bambu adalah larva ngengat yang hidup di dalam ruas-ruas bambu. Jenis ulat ini dikenal sebagai pakan hewan peliharaan seperti reptil, arwana, dan burung kicauan. Namun terkadang cukup sulit juga mendapatkan ulat bambu di pasaran, baik di pasar / toko burung maupun toko perlengkapan mancing dan ternyata budidaya ulat bambu bisa dijadikan sebagai usaha sampingan yang cukup menguntungkan. Bagaimana caranya? yuk simak ulasan berikut ini!

Menurut beberapa pedagang, ulat bambu umumnya dijual secara musiman, atau hanya ada pada waktu tertentu saja. Di luar waktu tersebut, ulat bambu sulit didapatkan. Kalau punya waktu senggang, tidak ada salahnya Anda mencoba “Budidaya Ulat Bambu, Menguntungkan Tak Banyak Yang Tahu”

Pada sisi lain, sering kali kita tidak merawat ulat bambu yang telah dibeli, sehingga banyak yang mati dan tidak bisa digunakan. Nah, dalam artikel ini Warung Desa juga akan menjelaskan secara singkat bagaimana cara merawat ulat bambu. Siapa tahu, dari budidaya kecil-kecilan ini cocok jadi usaha kamu. 

Baca juga : Budidaya Tanaman Porang, Si Umbi Bahan Baku Mie Shirataki

Cara merawat ulat bambu

Berikut ini beberapa perawatan yang bisa dilakukan untuk menjaga kelangsungan hidup ulat bambu agar tetap awet dan bisa diberikan kepada burung setiap kali dibutuhkan.

  • Media penyimpanan
    Media yang digunakan untuk menyimpan ulat bambu bisa berupa batang bambu bawaannya maupun dalam wadah toples plastik yang bagian bawahnya dilapisi serbuk gergaji.
  • Menjaga kelembaban
    Ulat bambu bisa bertahan hidup lebih lama jika selalu disimpan di tempat lembab. Cara yang biasa dilakukan untuk menjaga kelembaban adalah membuka daun penutupnya, lalu ditetesi sedikit air. Cara lain, celupkanlah sedikit bagian ujung bambunya ke dalam wadah berisi air.
  • Memberikan pakan
    Meski mendapatkan makanan dari bambu tempatnya hidup, namun jika ulat bambu dipelihara sebagai pakan hewan peliharaan, tentu dia harus mendapatkan pakan bernutrisi agar bisa memberi manfaat lebih. Adapun pakan yang bisa diberikan adalah tepung sereal bayi yang dimasukkan ke dalam bumbungnya.

Namun dalam perawatan ulat bambu tersebut ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian kicaumania, yaitu:

  • Media penyimpanan harus terhindar dari serangan semut atau tikus.
  • Jangan menyimpan wadah / bumbungnya pada tempat panas atau selalu terpapar cahaya matahari.

Selain bisa dimanfaatkan sebagai pakan burung dan umpan pancing, ulat bambu juga bisa disajikan sebagai makanan lezat dan tinggi protein bagi manusia. Ya, untuk kita sendiri.

Di Thailand, Tiongkok, dan Jepang pun, ulat bambu sering dijual dalam beragam sajian makanan. Proteinnya yang tinggi membuat banyak orang tertarik mengonsumsinya. Bahkan banyak dijual pula ulat bambu dalam kondisi hidup atau kering di pasar-pasar tradisional di ketiga negara tersebut.

Panduan budidaya ulat bambu

Untuk menjaga ketersediaannya, banyak orang mulai membudidayakan ulat bambu untuk berbagai tujuan, baik sebagai penganan maupun pakan hewan. Teknis budidayanya cukup mudah, bahkan Anda pun bisa melakukannya sendiri di rumah.

Untuk menjaga ketersediannya, banyak orang yang kemudian membudidayakannya untuk beragam tujuan, mulai dari sebagai penganan/kudapan hingga sebagai pakan untuk hewan peliharan. Berikut adalah cara budidaya ulat bambu untuk pakan burung dan hewan peliharaan.

1. Bahan-bahan yang harus disiapkan

Jika ingi membudidayakan ulat bambu, Anda mesti menyiapkan beberapa bahan berikut ini:

  • Dua wadah plastik / toples ukuran sedang atau besar, yang akan digunakan sebagai tempat penampungan ulat bambu.
  • Serbuk gergaji
  • Kertas kardus / karton tebal
  • Pakan racikan yang dibuat dengan mencampurkan tepung sereal bayi (1,2 gram),  madu (100 ml), air hangat (100 ml), 1 sendok makan ragi (opsional), dan vitamin 5 ml (opsional).

Semua bahan dicampur dalam blender, kemudian diaduk hingga menjadi adonan yang kenyal.

2. Cara budidaya ulat bambu

  • Masukkan serbuk gergaji ke bagian dasar dari wadah toples yang digunakan. Setelah itu masukkan adonan pakan ke dalamnya.
  • Kertas kardus/karton diremas-remas hingga berbentuk bulatan sepert bola, kemudian diletakkan dalam wadah toplesnya. Bola kardus itu akan dipakai sebagai tempat ulat berubah jadi kepompong.
  • Alternatif lain adalah masukkan potongan-potongan kain ke dalam wadahnya. Setelah wadah siap digunakan, masukkan ulat bambu ke dalamnya, lalu simpan di tempat yang lembab.
  • Beberapa minggu kemudian, ulat akan berubah menjadi kepompong yang menempel di bola-bola kertas yang sudah disediakan. Pada saat itu, bola-bola kertas bisa dipindahkan ke dalam wadah toples yang satu lagi.
  • Setelah beberapa waktu, kepompong akan berubah menjadi ngengat dewasa. Rentang hidup ngengat dewasa sekitar dua bulan.
  • Setelah melakukan perkawinan, ngengat betina akan bertelur sekitar 80 – 130 telur dan akan menetas setelah berumur 12 hari.
  • Telur yang menetas menjadi larva / ulat bambu tersebut bisa langsung dipanen. Sisanya dibiarkan saja untuk berkembang kembali menjadi kepompong.

Selain budidaya ulat bambu, metode yang sama juga bisa dilakukan untuk budidaya beberapa jenis ulat lain seperti wax worm yang berasal dari ngengat lilin. Wax worm juga termasuk EF untuk berbagai jenis burung peliharaan.

Nah gimana setelah baca artikel “Budidaya Ulat Bambu, Menguntungkan Namun Tak Banyak Yang Tahu”, apakah kamu tertarik untuk membudidaya-nya? atau malah masih bingung mau usaha apa. Untuk ide usaha lainnya baca di Warung Desa segment Pluang Usaha yah. Tapi buat kamu yang mau kerja dari mana aja kapan aja jangan lupa untuk instal Warung Desa di hape kamu.

Karena cuma Warung Desa yang bisa bikin usaha rumahan hasil kantoran.

 

Recommended Posts